Friday, November 25, 2011

Makna Sumpah Pemuda untuk Generasi Muda Indonesia ke Arah yang Lebih Baik

 Sejarah Sumpah Pemuda[1]

Lahirnya Sumpah Pemuda didorong adanya keinginan pemuda Indonesia masa itu untuk menciptakan persatuan. Pada tanggal 20 mei 1908 adalah tanggal berdirinya organisasi pertama di Indonesia yaitu Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo mahasiswa STOVIA. Organisasi inilah yang menjadi awal dari kebangkitan rekyat Indonesia.
Sekitar tahun 1908-1921 pergerakan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi masih bersifat kedaerahan dan belum menunjukan sifat radikal terhadap pemerintahan Belanda. Memasuki tahun 1922 dinamika pergerakan nasional mulai berubah ke arah radikal dan mulai dikenalnya nama Indonesia yang dijadikan dalam nama organisasi yaitu Perhimpunan Indonesia 1924.
Semangat atas rasa kesatuan sebagai satu bangsa dan satu tanah air semakin membara sehingga akhirnya diadakanlah pertemuan dari seluruh organisasi-organisasi dan menjadi satu. Persiapan Kongres Pemuda Pertama dilakukan pada 15 November 1925 di gedung Lux Orientis, Jakarta. Hadir lima organisasi pemuda dan beberapa peserta perorangan. Organisasi itu Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Pelajar Minahasa, dan Sekar Roekoen. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan membentuk panitia Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Tujuan kongres tersebut, "Menggugah semangat kerja sama di antara bermacam-macam organisasi pemuda di tanah air kita, supaya dapat diwujudkan dasar pokok lahirnya persatuan Indonesia, di tengah-tengah bangsa di dunia." Panitia kongres terdiri atas 10 orang, di antaranya Bahder Djohan, Sumarto, Jan Toule Soulehuwij, Paul Pinontoan, dan Tabrani. Dari sini lantas dibentuk "panitia inti". Ketua Tabrani, wakil ketua Sumarto, sekretaris Djamaludin (Adinegoro), dan bendahara Suwarso.
Kongres Pemuda Pertama itu kemudian digelar di Jakarta pada 30 April 1926 hingga 2 Mei 1926. Berbagai persoalan dibahas dalam kongres ini. Bahder Djohan, misalnya, menyampaikan materi "kedudukan wanita dalam masyarakat Indonesia". Tapi, lantaran terlambat datang dari Bandung, "pidato" Bahder akhirnya dibacakan Djamaludin. Adapun Paul Pinontoan membahas peranan agama dalam gerakan nasional. Dalam kongres yang memakai bahasa Belanda itu dibicarakan pula soal bahasa persatuan. Muhammad Yamin, yang membahas "masa depan bahasa-bahasa Indonesia dan kesusastraannya", menyatakan hanya dua bahasa, Jawa dan Melayu, yang berpeluang menjadi bahasa persatuan. Namun Yamin yakin bahasa Melayu yang akan lebih berkembang sebagai bahasa persatuan. Djamaludin sependapat dengan Yamin. Menurut Tabrani, sebagai ketua kongres, peserta kongres saat itu sepakat menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Namun Tabrani menentang. "Bukan saya tidak menyetujui pidato Yamin. Jalan pikiran saya ialah tujuan bersama, yaitu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa," ujar Tabrani, seperti yang ia tulis dalam 45 Tahun Sumpah Pemuda.  Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, "Maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu." Pendapat ini diterima Yamin dan Djamaludin. Keputusan menetapkan bahasa persatuan itu pun ditunda dan akan dikemukakan lagi dalam Kongres Pemuda Kedua.
Kongres Pemuda Indonesia II pada 27-28 Oktober 1928. Kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat, yakni:
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia yang terkenal dengan Sumpah Pemuda. Isinya adalah:
Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

 Mahasiswa, Pemuda dan Kebangkitan[2]
Tak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa selalu menjadi sumber inspirasi, memiliki important role dalam perjuangan penegakan kedaulatan rakyat di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di negeri ini. Daya gedor sang pencerah dari kampus terbukti mampu menebar ketakutan bagi penguasa-penguasa otoriter di banyak negara. Mahasiswa sebagai inisiator, inspirator sekaligus sebagai moral force pendobrak kezaliman dan keangkuhan para penguasa, jamak mendapat respons besar rakyat.
Perjuangan heroik mahasiswa, didukung berbagai elemen pemuda, terpatri dalam sejarah perjuangan bangsa dalam berbagai tahap dan periode, diawali permulaan abad 20. Tahap demi tahap perjuangan mahasiswa dan pemuda memakan waktu yang amat panjang dan lama, dilakukan tanpa pamrih apapun, kecuali hanya bertujuan untuk memerdekakan bangsa dari belenggu kekuasaan penjajah asing, bahkan penjajahan oleh bangsa sendiri yang kemaruk kekuasaan dan serakah terhadap harta.
Terjadinya perubahan fundamental di banyak negara (otoriter) terbukti diawali kekuatan pendobrak (mahasiswa) di back up pemuda berbagai lapisan LSM/NGO. Rakyat dari berbagai tingkatan/elemen akhirnya terpicu spirit-nya, membersitkan sebuah people power maha dahsyat, berujung pada runtuhnya rezim penguasa.
Episode Subtil
Berbagai episode perjuangan dilakukan secara subtil, halus dan cerdik oleh mahasiswa, pemuda sebagai demolisher men. Pada 16 Oktober 1905, para tokoh pemuda Islam dari berbagai daerah, H.O.S Cokroaminoto (Jawa), H. Agus Salim (Minangkabau, Sumatra), A.M. Sangaji (Maluku) dlsb, mendirikan Sarikat Islam, sebagai tonggak sejarah awal bangkitnya gerakan mahasiswa dan pemuda Indonesia pada awal abad 20.
Eksistensi gerakan pemuda Islam dalam wadah Sarikat Islam mencerminkan kebhinekaan unsur pemuda berasal dari berbagai daerah di tanah air. Tokoh sekaliber H.O.S Cokroaminoto dan H. Agus Salim ternyata tampil dan selalu eksis disetiap periode perjuangan sampai tercapainya kemerdekaan RI 1945. Haji Agus Salim bahkan menggebrak dunia mengharumkan nama bangsa sejajar dengan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir.
Tiga tahun kemudian pada 20 Mei 1908, beberapa orang aktifis mahasiswa STOVIA (Kedokteran), Soetomo, Cipto Mangoenkoesoemo, Wahidin Soediro Hoesodo, dll, menyuarakan perjuangan pemuda Indonesia (kebanyakan berasal dari Jawa) dengan mendirikan wadah Boedi Oetomo. 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Setelah Perang Dunia I (sekitar tahun 1917) muncul berbagai organisasi pemuda, Yong Sumateranen Bond, Yong Yava, Yong Ambon, Yong Celebes. Walau organisasi pemuda ini bersifat kedaerahan namun pada hakekatnya bertujuan untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan kolonialis Belanda. Gerakan pemuda yang bersifat kedaerahan ini, akhirnya menyatukan tekad bersama dalam satu wadah Kongres Pemuda di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Keinginan menyatukan tekad mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka dimulai dari sini. Para pemuda seperti Mr. Mohd. Yamin, Mr. Hoesni Thamrin CS menggagas persatuan bangsa dengan trilogi: satu bangsa, bangsa Indonesia; satu tanah air, tanah air Indonesia; satu bahasa, bahasa Indonesia. Trilogi kesatuan yang dihasilkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ini mampu memberikan fighting spirit menyala di dada pemuda Indonesia seantero tanah air dan luar negeri.
Dr Moh Hatta bersama Mr Sartono, Nazir Pamuncak, Mr Iwa Koesoema Soemantri CS mahasiswa-mahasiswa Indonesia di negeri Belanda membuat wadah Perhimpunan Indonesia. Bung Hatta memimpin P.I. ke Kongres Liga Anti Penjajahan di Brussel 1927. Kegigihan Hatta menyuarakan kemerdekaan Indonesia di berbagai forum di Eropa menyebabkan beliau di penjara pemerintah Belanda. Pidato pembelaan Hatta dengan judul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka) 1928 menyentak. Tokoh-tokoh seperjuangan dari berbagai negara seperti Jawaharlal Nehru dari India memuji beliau, disamping tokoh-tokoh idealis dari Belanda sendiri.
Di tanah air, Ir Soekarno, seorang mahasiswa tamatan sekolah teknologi tinggi Technische Hogeschool (cakal bakal ITB sekarang) di Bandung karena aktivitasnya di PNI yang didirikannya, selalu menyuarakan kebebasan rakyat Indonesia, ditangkap Belanda, dipenjarakan di Banceuy Bandung (1930). Dengan penuh semangat menggelora Soekarno melakukan pembelaan di Landraad Bandung berjudul Indonesia Klaagt Aan (Indonesia Menggugat) pada 18 Agustus 1930. “Bahwasanya matahari bukan terbit karena ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena matahari terbit”, sepenggal cuplikan pidato Soekarno mengandung sindiran tajam, menyakitkan kuping kolonialis Belanda, menyebabkan beliau dipenjara 4 tahun.
Episode Pendobrak
Gerakan elemen mahasiswa dan pemuda Indonesia yang diawali pada 1905 berlanjut terus-menerus secara berkesinambungan, sampai tercapainya kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Perjuangan rakyat pasca kemerdekaan terus menggebu. Seorang pemuda berbadan kecil dengan semangat menggebu menggoncang Surabaya menghadapi tentara sekutu yang dibelakangnya diboncengi oleh tentara penjajah Belanda. Bung Tomo sang pemuda kecil kerempeng, namun memiliki semangat baja pantang mundur menghadapi Belanda. Arek-arek Suroboyo yang digawangi Bung Tomo dengan semangat banteng ketaton bahu membahu menghadapi Belanda yang persenjataannya lengkap.  10 November 1945 Surabaya jadi lautan darah anak-anak muda bangsa.
Pascaproklamasi 45 dan NKRI 1950 negara kita masih harus berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Dan semangat pemuda terus membara. Sedangkan para penguasa banyak yang melalaikan kekuasaaunnya.  Mahasiswa pun kembali terpicu, tersentak melihat penguasa ingin melanggengkan kekuasaannya. Kemarahan dan kejengkelan mahasiswa mencapai titik kulminasi tinggi, tambahan peristiwa penembakan 4 orang mahasiswa Trisakti, Elang Lesmana CS pada 12 Mei 1998.
Anak bangsa ini takkan pernah melupakan perjuangan fenomenal penuh heroik mahasiswa. Ribuan mahasiswa berdatangan dari berbagai Universitas di pulau Jawa dan luar Jawa, menduduki gedung DPR-RI Senayan dengan segumpal tekad bulat, penguasa/ tirani yang terlalu lama berkuasa harus turun!
Kejatuhan imperium Orde Lama dan Orde Baru sama tragisnya karena terlalu lama berkuasa, melanggar konstitusi, serakah dan rakus terhadap kekuasaan dan harta.
Sayangnya pemerintahan pascareformasi ternyata belum menghasilkan apa-apa, ekonomi rakyat makin sulit. Koruptor berkembang makin brutal dan fatal. Reshuffle kabinet memperberat Anggaran Negara sangat tidak solutif.


[1]  sagimun MD, Peranan Pemuda dari Sumpah Pemuda sampai Proklamasi
[2] Syaiful Harun, Harian Pagi Padang Ekspres

No comments:

Post a Comment